Karier : Bermanfaat vs Dimanfaatkan


Sudah lebih dari 15 tahun lalu berinteraksi dengan seorang senior ini, dia muncul ditengah kesibukan organisasi bernama FDI jaman dulu di SMA 3 Semarang. Jarak kami cukup jauh, mungkin 9 atau 10 tahun.

Tapi cukup membekas, karena sampai hari ini kami masih berinteraksi. Orangnya yg pemikir cukup mengintimidasi saya dengan logika dan argumentasinya, meaki saya tahu dia juga orang lapangan yang main otot juga siap. Haha.

Peristiwa itu bersama 10 kawan SMA, kalau tidak salah. Seharian kita digenjot fisik dan logika. Diskusi kami mendalam, kadang terasa absurd. Bayangkan saja kita diberi tugas membersihkan Lapangan Simpang 5, yang saat itu sepertinya semalam baru selesai untuk konser. Lelah pasti, tapi setelah itu kami diminta merenung sejenak waktu dan mendiskusikannya. 

Mungkin saat itu salah satu proses pendewasaan saya. Tentu dengan banyaknya peristiwa hidup lainnya. Proses berpikir mendalam sejak itu jadi aktivitas yang cukup mewarnai hidup, hingga memikirkan kira-kira besok gede mau jadi apa (kaya lagunya susan, hehe).

Hingga hari ini, saat bercita-cita jadi tidak mudah dan menjalani hidup dengan melihat realita dan tanggung jawab. Mungkin aktivitas dulu bersama Mas Muhammad Firman 15an tahun lalu itu kaya dikerjain habis-habisan, dimanfaatkan, dibully dan lainnya lah. Tapi ternyata waktu berbicara lain, seiring kedewasaan dan proses berpikir berjalan dan berkembang.

Hidup itu pilihan, sudah tidak relevan lagi pertanyaan BERMANFAAT atau DIMANFAATKAN. Karena pada akhirnya persepsi terhadap aktivitas yang kita lakukan yang lebih penting, untuk apa atau untuk siapa?

Sehingga kalau ada anak muda yang sedang ragu bercita-cita, saya selalu bilang. Bercita-cita itu sebuah keistimewaan masa muda. Tapi kalau kamu mau tahu, kamu bisa bercita-cita sekaligus menghadapi masa depan dengan siap tanpa ragu. Bukan cuma di bibir tapi dipersiapkan. Hingga nanti kamu bisa BERKARIER juga BERBAHAGIA dangan segala CITA-CITA yang kamu sudah buat saat ini.

Salam.

Komentar

Postingan Populer